smkn5-tng

Tingkatkan Devisa dari Ikan Hias, Universitas Indonesia Temukan Inovasi Kriopreservasi Spermatozoa

Tingkatkan Devisa dari Ikan Hias, Universitas Indonesia Temukan Inovasi Kriopreservasi Spermatozoa

Tingkatkan devisa dari ikan hias, Universitas Indonesia temukan inovasi Kriopreservasi Spermatozoa.

Indonesia memiliki kekayaan spesies ikan terbesar di dunia. Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia memiliki sedikitnya 4.720 jenis ikan air tawar dan air laut, atau sekitar 25 persen dari populasi ikan di dunia.

Dari jumlah tersebut, terdapat 650 spesies ikan hias, di antaranya ikan botia (Botia macracanthus).

Potensi ini dapat menjadi nilai strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan penerimaan negara dari sumber devisa melalui ekspor ikan hias.

Saat ini, pengembangan ekspor ikan hias terhambat karena populasi ikan di alam cenderung menurun. Penurunan ini terjadi karena over fishing, ekspor juvenile, dan kerusakan habitat akibat penebangan hutan secara ilegal.

Untuk tetap memenuhi permintaan pasar, produksi perikanan tidak cukup mengandalkan populasi alam, tetapi juga produksi akuakultur dengan memanfaatkan aplikasi breeding technology

Namun demikian, penyediaan benih dengan cara ini terkendala karena tidak sinkronnya pematangan gonad antara induk jantan dan induk betina.

Menurut dosen dan peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Drs. Abinawanto, M.Si., kriopreservasi spermatozoa dapat menjadi solusi dalam pemecahan masalah ini.

Kriopreservasi adalah teknik penyimpanan material genetik (termasuk spermatozoa) pada suhu dingin dalam jangka waktu tertentu.

Melalui metode kriopreservasi, sel dapat disimpan dalam hitungan jam hingga tahun.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Pemanfaatan Krioprotektan Alami untuk Kriopreservasi Spermatozoa Ikan dalam Upaya Konservasi Ex-Situ”, Prof. Abinawanto menyebutkan beberapa faktor yang menentukan keberhasilan kriopreservasi.

Faktor tersebut meliputi metode pengambilan sampel (cara mengoleksi sperma), kemasan (tempat yang digunakan untuk menyimpan sperma), larutan pengencer (krioprotektan dan ekstender) serta suhu penyimpanan untuk menjaga sel sperma tetap hidup dan berkemampuan untuk membuahi sel telur.

Metode pengambilan sampel sperma pada ikan dapat dilakukan dengan cara stripping (dipijat) pada bagian abdomen (perut) atau dibedah.

Dengan metode stripping, spermatozoa hidup yang didapat bisa lebih banyak daripada metode bedah. Metode stripping biasanya digunakan untuk mengambil sperma ikan mas, ikan tawes, dan ikan dewa.

Selain Metode Pengambilan, Kemasan Untuk Menyimpan Sperma Menentukan Keberhasilan Kriopreservasi

Tabung cryogenic (2 mL) dan straw (0,2 mL) digunakan untuk menyimpan sel pada suhu dingin. Tabung cryogenic digunakan untuk menyimpan sperma, sedangkan straw untuk menyimpan embrio (mamalia).

Faktor lain keberhasilan kriopreservasi adalah pemanfaatan larutan pengencer untuk mengurangi kekentalan cairan sperma selama penyimpanan dan mencegah terjadinya penggumpalan.

Larutan pengencer terdiri atas krioprotektan dan ekstender. Krioprotektan ialah larutan pelindung sel, baik dari luar (extracellular) maupun dari dalam (intracellular).

Methanol, Glycerol, dan Dimetil sulfoksida (DMSO) merupakan krioprotektan intracellular, sedangkan Polyvinyl pyrrolidone (PVP) dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) adalah krioprotektan extracellular non-alami.

Prof. Abinawanto menekankan pentingnya pemanfaatan krioprotektan extracellular alami. Selain harganya murah, krioprotektan extracellular alami mudah didapat dan dimanfaatkan masyarakat.

Contoh krioprotektan extracellular alami adalah madu, susu skim, kuning telur, sari kedelai, sari kurma, dan gula merah.

Krioprotektan alami memiliki efek yang beragam terhadap spermatozoa berdasarkan jenis krioprotektan yang dipakai dan spesies yang digunakan.

Krioprotektan alami mampu mempertahankan motilitas, viabilitas, dan fertilitas hingga di atas 80 persen serta mereduksi abnormalitas hingga 10–25 persen Dilansir dari laman smkn 5 tanggerang

Selain krioprotektan, larutan ekstender juga dimanfaatkan sebagai larutan pengencer dalam kriopreservasi.